Pengalamanku
sayang,
pengalamanku malang
(Pengarang : Asrori Zainur Ridho)
Hari ini hari
Jum’at di sekolah, aku diajak teman-teman pramukaku untuk ikut bersama dalam
lomba LT2 di kwarran kami, tapi tentang hal itu aku masih bingung karena
sekarang aku telah kelas 3 SMP dan hanya aku sendiri yang ikut eskul pramuka
untuk angkatan kelas 3-nya, lagi pula kepsek kami mengenalku, beliau mengenalku
karena aku memang sering mewakili sekolah dalam lomba, khususnya lomba
akademik, sehingga aku harus berpikir 7 keliling, karena beliau telah berpesan
kepadaku, bila sudah kelas 3 utamakanlah belajar, karena yang dihadapi adalah
UN, sehingga aku benar-benar bingung untuk ikut ataupun tinggal dirumah, kalau
di bidang Pramuka sih mungkin memang aku yang paling dijagokan, dari simpul,
bahasa isyarat, hingga LKBB, selalu aku yang disuruh oleh Pembina kami dalam
mengajari adik-adik kelas 1 dan 2, atau mungkin aku yang disuruh karena aku
yang satu-satunya paling tua ? mungkin saja.
Tapi pikirku
Ujian Nasional itu masih lama, sehingga jika aku ikut kan Cuma izin 1 hari doang, yaitu hari Sabtu
! yap lomba itu dimulai hari ini, yaitu Jum’at siang sampai sabtu sore, kalau
izin dari orang tua sih pasti mengizinkan, tapi bagaimana dengan pelajaran yang
tertinggal untuk esok hari, apalagi besok gurunya pada killer semua, wah bisa
bahaya nih ! tapikan aku bakal dapat izin pula dari sekolah dan tak ada alasan
bagi mereka untuk memarahiku, yaa bagaimana yah ? kalau kemah biasa sih sudah
sering tapi ini kan lomba LT2 jarang-jarang aku bisa ikut, apalagi kelulusan telah
diambang mata, mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mendapatkan pengalaman
dari pramuka. Baiklah kalau begitu aku ikut saja, demi Pramuka dan pengalaman
terakhirku di SMP
Kemudian temanku
yang satu ini mengajakku berkumpul di perpustakaan, dan kami langsung goes to
library, sesampainya disana perpustakaan bukan lagi tempat yang hening
melainkan ribut seperti pasar, apalagi setelah kuamati ternyata petugas
perpustakaannya tidak ada dipos jaganya mungkin ia sedang ada kerjaan diluar
sana, Kemudian kami membagi tugas siapa yang bawa ini dan siapa yang membawa
itu. Jadi kesimpulan rapat ini, setelah selesai Jum’atan berkumpul didepan SMP
dan berangkat bersama-sama. Kemudian kami kembali ke kelas masing-masing.
Sekarang telah
jamnya pulang, sesampainya dirumah aku langsung packing barang barang mana saja
yang akan ku bawa, seperti beras, sendok,gelas, piring, peralatan sholat dll.
Setelah semua siap aku langsung mandi dan pergi ke masjid, untuk melaksanakan
sholat Jum’at. Setelah Sholat Jum’at kami berkumpul di depan SMP.
Sambil
mengendarai sepeda motor bebekku yang tercinta akhirnya aku sampai juga di
SMPku, ternyata masih sepi padahal sudah setengah tiga, kan janjinya tadi jam 2
lewat 15, tapi tak apalah mungkin memang akunya saja yang memang rajin yang membuatku
harus menunggu teman-teman lainnya. Jam telah menunjukan pukul 3 tepatl,
akhirnya anggota telah lengkap semua, dianggota ini aku bertindak sebagai wakil
pindru, dan sebut saja Zen sebagai pindru kami, kemudian ia membagi-bagi barang
yang akan dibawa karena lokasi perlombaan cukup jauh dan sepeda motor pun tidak
semuanya bawa, setelah beberapa lama akhirnya kami semua deal dan langsung
capcus ke lokasi perlombaan alias kwarran.
Sesampainya di
lokasi perlombaan kami langsung memarkirkan sepeda motor kami dengan rapi dan
menyusun barang-barang kami sebelum pemeriksaan apa yang kita bawa atau
biasanya disebut dengan packing. Yaa semoga saja dari packing ini kami
mendapatkan nilai yang lumayan bagus, sambil menunggu kami melihat ada regu
pramuka lain yang datang sebut saja dari SMP Y, mereka datang menggunakan mobil
pick up, wah nyaman sekali mereka sedangkan aku harus bersama bebekku plus
temanku yang minta digonceng. Setelah itu mereka turun dari mobil dan berbaris
berbanjar sambil menyanyikan yel-yel mereka, waduh mereka kompak sekali sampai
sampai mereka bernyanyi sambil goyang itik, hahahahaha itu membuat kami tertawa,
apalagi mereka membawa perlengkapan lengkap seperti bendera semaphore, kotak
PPPK dan sebagainya, satu hal yang harus kami akui mereka lebih kreatif
dibanding kami.
Akhirnya
pemeriksaan barang bawaan dimulai, SMP kami yang lebih dulu diperiksa, dan yang
memeriksa barang bawaan kami adalah kakak-kakak yang masih penegak, “wah mereka
keliatannya serius sekali memeriksanya, seperti lagi merazia atau mencari bom
saja” candaan temanku padaku. Setelah selasai giliran pun berganti, di lokasi
ini ada 4 sekolah yang mengikuti lomba yaitu sekolah kami, sekolah X dan
sekolah Y, serta sekolah Z. kemudia giliran SMP X yang diperiksa, dalam selang
waktu tersebut kami menyempatkan waktu untuk pergi ke mushola untuk beribadah.
Setelah beribadah kami kembali ke lokasi dan mengikuti apel pembukaan.
Setelah selesai
apel kami beristirahat sejenak dan Pembina kami mempersilahkan kami untuk
bersiap sholat maghrib berjamaah di tengah lapangan bersama seluruh anggota
lainnya, setelah selesai sholat kami makan malam tentunya makan nasi bungkus
dulu, soalnya kalau masak menggunakan komporkan gak mungkin waktunya, apalagi
mesti nyuci beras dan sebagainya, kemudian sebelum mendirikan tenda kami
diminta sholat Isya berjamaah lagi.
Setelah sholat
kemudian kami, seluruh peserta lomba dikumpulkan semua, kami diberikan arahan
untuk mendirikan tenda, ternyata kami diminta untuk mendirikan tenda dihutan,
aplagi sekarang telah menunjukan pukul 10 malam, harinya mendung pula, ya
walaupun kami diberi satu batang lilin yang cukup besar seperti lilin yang ada
di sinetron babi ngepet, disalah satu channel Indonesia pada saat zaman bahula
dulu, Lagi-lagi kami diminta agar sangat berhati-hati karena jika sumber penerangan
mati, maka habislah kami, walaupun kami memang membawa senter tapi apadaya jika
sudah disita oleh kakak-kakak penegak itu, Lagi arahan yang tidak kami sukai,
kami tidak boleh membawa apapun menggunakan tangan, semuanya harus dipikul
dibelakang punggung, selesai mendapat arahan kemudian pindru kami mencabut
suatu gulungan kertas untuk menentukan lokasi dimana kami akan berkemah, oh ya
dan untuk penerangan jalan kata orang itu telah dipasang lilin-lilin sebagai
petunjuk rute perjalanan, berarti jika lilin pada pinggir jalan itu mati, maka
kami tidk bisa menirika tenda, alias tersesat, waduh !!, kemudian kami diminta
untuk mempersiapkan barang bawaan dan berganti ke kakak kakak pembinanya yang
diberi arahan.
Hahahahaha aku tertawa
melihat temanku yang gemuk menggendong kompor kasihan sekali ia, tapi
bagaimanapun yang gemuk dan power yang paling good kan dia. Uh barang bawaanku
terasa seberat 24 kg, aku tidak menyangka akan seberat itu mungkin karena
stamina dan tingkat kelelahan pada level paling bawah. Setelah siap kemudian
kami berangkat. Lilinpun turn on.
Dan itu rute
awal kami, kemudian kami masuk ke hutan itu, wah malam ini bulan benar-benar
tidak terlihat, benar-benar gelap bung. Terasa sudah 2km kami terus mengikuti
lilin-lilin dipinggir jalan, kami dikumpulkan lagi untuk mulai membuat
peta-pita, “malam-malam seperti ini, tanpa melihat dengan pasti panorama kiri
dan kanan, oh tuhan” keluhku. Kemudian kami berjalan lagi tak lama kemudian “oh
tidak aku terpeleset, lumpur sialan, oh tidak ini kotoran sapi, arrrggh
ternyata disini kandang sapi, sepatuku bau kotoran sapi deh jadinya” kesalku
dan temanku mentertawakannya, akhirnya kami sampai juga dilokasi untuk
mendirikan tenda, ternyata kakak-kakak penegak tersebut telah bejaga di pos
mereka masing-masing, untuk keamanan kami.
Yap kini
waktunya kami mendirikan tenda, uh tenggorakanku bagaikan gurun sahara, kulihat
tas temanku ternyata ada botol minuman air mineral dengan merk yang masih
terpasang rapi tanpa bersegel ditutupnya, ya langsung saja aku minum “Brusshhh”
sekali teguk langsung kusembur keluar air itu, lagi teman-temanku
mentertawakanku, ternyata yang kuminum bukan air mineral, tapi minyak tanah
untuk menyalakan kompor untuk memasak, langsung saja perutku demokrasi anarkis,
oh aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi, setelah tenda selesai dibuat
diriku langsung terkapar dalam tenda, betapa malangnya nasibku.
Semua
teman-temanku lagi berdebat membuat peta-pita, sedangkn aku hanya terdiam
meratapi nasibku, uh sakitnya perutku hanya bisa membuatku bermimpi ke angkasa
yang pertama kali. Aku tak tahu lagi apa yang kawan-kawanku lakukan, mungkin
mereka masih membuat peta pita atau sudah tertidur tapi yang jelas aku
benar-benar tidak bisa turun tangan dalam membuat peta pita.
Sekarang sudah
jam 3 lewat 30 pagi aku terbangun dari tidurku merasakan ginjalku yang
berdenyut-denyut mulai tadi yang dikarenakan ingin buang air besar dan air
kecil yang mulai tadi ku tahan-tahan, sebenarnya ingin sekali kulepas namun
pengalamanku dalam MCK masih sangat minim atau bisa dibilang masih sama dengan
nol. Biasanya aku membawa cangkul untuk MCK tapi untuk apa juga disini ada sapi
orang pasti ini lahan sudah ada yang punya, sehingga aku lebih memilih untuk
buang air kecil saja dulu, apalagi rasa minyak tanah dalam tubuhku masih
benar-benar terasa padahal sudah 2 botol air mineral ukuran paling besar, dan
sekarang tinggal 1 botol untuk teman-teman lainnya. Aku benar-benar menderita
karnanya sampai-sampai aku bertanya pada teman-temanku, apa besok aku akan mati
?, eh teman-temanku malah tertawa, “ya enggalah !! salah sendiri minyak tanah
kok diminum !” sindir kawanku. Adzan shubuh pun kemudian terdengar sampai
kesini, ingin sekali ku ikut sholat tapi mulai tadi selalu buang angin.
Matahari terbit pun
telah terlihat disela-sela dedaunan pohon, kami segera apel pagi, ya sebenarnya
aku tidak bisa, tapi tetap kupaksakan saja, sebnarnya di samping kanan tenda
kami ada pos jaga penegak sekitar 150
meter, tapi aku lebih memilih untuk tidak melapor, kalau kalau nanti aku
dibilang anak manja nan ceroboh. Setelah apel pagi kami kembali ke lokasi
perlombaan tentunya bersama regu lain serta didampingi kakak-kakak penegak.
Setelah sampai
di lokasi perlombaan kami diminta untuk membagi orang untuk mengikuti beberapa
cabang lomba pramuka, seperti semaphore dan morse, tali temali, lkbb, menaksir
jarak dan tinggi benda, dan sebagainya, awalnya aku ingin ikut semaphore saja,
tapi apadaya tingkat konsentrasiku benar-benar ciut gara-gara minyak tanah
sialan itu, jadi aku ikut menaksir jarak dan tinggi benda saja. Kemudian
kakak-kakak penegak yang mengkoordinator
kami menuntun kami ke pasar lam yang telah tidak digunakan lagi jaraknya
pun hanya sekitar 1 km.
Sesampainya
disana mereka memberikan kami kertas dan meminta kami untuk menaksir tinggi
bangunan pos satpam dan menaksir jarak antar kaleng yang telah mereka letakan
ditanah kalau menaksir tinggi gedung sih aku gak masalah, apalagi Cuma
menggunakan rumus kesebangunan, itu sih gampang yang jadi pertanyaannya
bagaimana menaksir jarak, padahal materi itu belum diajarkan. Jadi aku
akal-akalan saja, kalau tongkatku yang kubawa panjangnya 160 cm maka tinggal
kutambah-tambah saja sampai ujung kaleng sana, akhirnya penaksiran telah
selesai, kulihat regu lain mengeker objek menggunakan kompas, entahlah apa
maksud dari itu, aku sih cuek aja. Setelah selesai kami kembali ke lokasi
lomba.
Sesampainya
disana, kami tinggal menunggu hasil sambil mempersiapkan barang bawaan untuk
pulang, sekitar jam 2 kami melaksanakan apel penutup dan kini saatnya perolehan
hasil lomba untuk dibacakan, sambil membagi selemberan kertas yang berisikan
penilaian lomba, ternyata kami gagal untuk maju ke LT3, soalnya Sekolah X yang
melejit ke LT3, kalau dibilang sedih sih tidak, tapi kalau mengharukan iya,
soalnya aku berhasi menjadi yang terbaik dalam bidang penaksiran,
Alhamdullilah. Setelah selesai kami pun sayonara alias berjabat tangan ala
pramuka, dan kemudian langsung pulang, setelah sampai dirumah tujuan utamaku
adalah toilet, akhirnya bisa dilepas juga nih. Hemmm leganya. Toilet sweet
toilet.
(Cerpen diatas hanyalah karangan
gue yang apabila terjadi kesamaan maka hanyalah kebetulan)